2 Komentar

Resensi dan Sinopsis Novel Matahari Kembar Di Mandura

RESENSI NOVEL

m

Judul buku: Matahari Kembar di Mandura
Pengarang: Wawan Susetya
Penerbit: Diva Press
Tempat terbit: Jogjakarta
Tahun terbit: 2011
Cetakan ke-: 1
Jumlah halaman: 370 halaman

Wawan Susetya adalah pengarang novel yang sangat terkenal sudah banyak novel hasil dari krangan nya , salah satunya adalah novel “Matahari Kembar Di Mandura”. Wawan susetyo lahir di Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, pada 1 Desember 1969. Pada tahun 1994, ia merampungkan studinya di salah satu perguruan tinggi di Malang, jurusan bahasa Inggris.Setelah itu ia berkiprah dalam dunia Jurnalistik dengan menjadi wartawan di Jawa Pos News Network (JPNN) Biro Malang, Jawa Timur, 1994-1998.

Matahari Kembar di Mandura adalah novel yang mengungkap kisah Dewi Maerah dan putranya, Raden Kangsadewa sebagai tokoh jahat[antagonis] beserta Prabu Basudewa, Raden Kakrasana, dan Raden Narayana sebagai tikoh baik (protagonis). Kisah yang berlatar negeri Mandura dengan para tokohnya yang protagonis maupun antagonis, tak ayal juga mencakup dua makna.

Pertama, hampir semua kisah dalam pewayangan (wayang) sepertinya tak lepas dari perebutan unsur ‘tiga ta’; yakni harta, tahta, dan wanita!

Kedua, mengandung makna falsalah kehidupan yang sangat fundamental, yakni ‘sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti’ (kebatilan walaupun sebesar raksasa yang menguasai dunia akan hancur oleh kebenaran).

Sebagaimana kisah-kisah dalam pewayangan, maka lakon (kisah) “Kangsadewa Lena” ini diakhiri dengan happy ending, yakni bahwa kejahatan atau kebatilan pasti akan hancur oleh kebenaran. Hal itu sesuai dengan makna falsafah yang terkandung dalam kisah ini; “Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti’!

SINOPSIS

            Prabu Basudewa dinobatkan menjadi Raja  Mandura menggantikan tahta ayahhandanya Prabu Basukunti alias Prabu Kuntibhoja. Prabu Basudewa mempunyai dua istri yaitu Prabu Rohini dan Dewi Dewani. Tetapi sebelumnya Prabu Basudewa telah menjalin asmara dengan abdi dalem dan di karuniai dua anak yang bernama Raden Udawa dan Dewi dewani.

Seiring berjalannya waktu, Prabu Basudewa berkeinginan menikah lagi dengan Dewi Maerah. Tapi diluar sepengetahuan Prabu Basudewa, Dewi Maerah melakukan penghianatan , berselingkuh dengan Prabu Gorawangsa Raja Guwabarong adalah tokoh antagonis yang memulai terjadinya gara-gara (pergolakan) di Mandura. Hal itu berawal ketika Dewi Maerah hendak dilamar Prabu Basudewa, tetapi ia meminta bebana (persyaratan, permintaan); jika ia memiliki seorang putera, maka puteranya kelak harus dinobatkan sebagai Raja Mandura menggantikan kedudukan Sang Prabu. Dan, karena Sang Prabu begitu terpesona dengan kecantikan Dewi Maerah, maka ia pun memenuhi bebana itu, sehingga Sang Dewi diangkat sebagai permaisuri ketiga. Sebelumnya Prabu Basudewa telah memiliki dua orang prameswari (permaisuri) yaitu Endhang Rohini dan Dewi Dewaki.

Tetapi, apakah pengabulan Sang Prabu terhadap permintaan Dewi Maerah itu hanya semata-mata karena tertarik dengan kecantikannya saja? Barangkali tidak! Sebab, dua orang permaisurinya Dewi Rohini dan Dewi Dewaki, bahkan ditambah dengan seorang garwa selir (isteri selir) lagi bernama Dewi Badrahini, hingga saat itu masih belum asesuta (belum memiliki momongan). Padahal, bukankah kebahagiaan seorang Raja-binathara jika ia sudah memiliki anak keturunan?

Ternyata Dewi Maerah berselingkuh! Yaitu dengan seorang danawa raja (raja raksasa) bernama Prabu Gorawangsa Raja Guwabarong. Dan, buah cinta Dewi Maerah dengan Prabu Gorawangsa itu melahirkan Raden Kangsadewa yang kemudian menjadi seorang yang sekti mandraguna. Dalam perkembangan berikutnya, Dewi Maerah selalu ‘menyuntikkan’ energi negatif kepada puteranya Raden Kangsadewa bahwa dia adalah ‘putera mahkota’ Mandura, bahkan Sang Prabu pernah menjanjikan kepadanya bahwa puteranya-lah yang kelak berhak atas tahta singgasana Negeri Mandura.

Padahal, bukankah Raden Kangsadewa adalah ‘buah cinta’ Dewi Maerah dengan selingkuhannya Prabu Gorawangsa? Artinya, meski Sang Prabu pernah mengucapkan suatu janji kepada Dewi Maerah atas tahta Mandura, tetapi karena Dewi Maerah telah berselingkuh, maka semestinya janji itu batal secara otomatis! Tetapi begitulah yang terjadi! Karena Dewi Maerah telah dirasuki nafsu syahwat ambisius kekuasaan lalu ‘ditransfer’ kepada puteranya sejak kecil, tak ayal setelah dewasanya Raden Kangsadewa benar-benar menagih janji tahta Mandura kepada Prabu Basudewa. Bahkan, Sang Prabu pun masih bermurah hati dengan mengangkat Raden Kangsa sebagai Pangeran Anom Adipati di Kesatriyan Sengkapura.

Di sisi lain, ketiga isteri Prabu Basudewa pun mothah (meminta) agar Sang Prabu berkenan menjalankan semadi atau manungku puja untuk mendapatkan wangsit (bisikan ghaib); jalan apakah yang musti ditempuh agar mereka bertiga dapat memiliki anak? Sang Prabu sendiri juga bercita-cita memiliki anak-anak sebagai titising Dewa-Bathara!

Dan, berdasarkan petunjuk wangsit dari Gusti Kang Akarya Jagad bahwa Prabu Basudewa beserta ketiga isterinya supaya menjalankan mbebedhag (berburu) di Hutan Kumbina. Setidaknya, hal itu merupakan pergulatan keprihatinan yang musti ditempuh Prabu Basudewa beserta ketiga isterinya. Dewi Rohini, Dewi Dewaki dan Dewi Badrahini pun hamil. Dan, setelah saatnya melahirkan, Dewi Rohini melahirkan Raden Kakrasana sebagai titising Bathara Laksmanasadu dan Sang Hyang Naga Basuki. Dewi Dewaki melahirkan Raden Narayana yang merupakan jelmaan Bathara Whisnu. Sedang Dewi Badrahini melahirkan Rara Ireng.

Sebagai titising Dewa Bathara, tak pelak Raden Kakrasana dan Raden Narayana sejak kecil harus menjalani kehidupan lara lapa (keprihatinan) di padepokan Widarakandhang yang diasuh oleh Ki Antyagopa dengan Nyai Segopi. Dari sinilah Raden Kakrasana dan Raden Narayana gemar menjalani tapa brata hingga mendapatkan anugerah Dewata Agung; yakni Kakrasana memperoleh Senjata Nanggala dari Bathara Brahma, sedang Narayana mendapatkan Senjata Cakra dari Bathara Whisnu. Bahkan, Narayana juga mendapatkan anugerah lain dari Begawan Padmanaba, mahagurunya, yaitu berupa Kembang Wijayakusuma dan Aji Balasewu.

Selanjutnya, sebagai titising Dewa Bathara yang telah dibekali senjata yang ampuhnya kagila-gila (sangat dahsyat), maka Raden Kakrasana dan Raden Narayana berkewajiban mangrurah satru sekti (memberantas musuh sakti) yang dur angkara murka (berwatak jahat). Bukankah pula tugas satriya utama (ksatria sejati) adalah menegakkan kebenaran dan keadilan di muka bumi serta ‘memayu hayuning bawana’ (menyelamatkan dan memakmurkan bumi)?

Dan, sesuai pakem (kisah baku pewayangan) akhirnya Raden Kakrasana dan Raden Narayana benar-benar dapat menjalankan misinya dengan baik, yakni memberantas kejahatan di muka bumi yang diejawantahkan dengan membunuh Raden Kangsadewa dengan Senjata Nanggala dan Senjata Cakra! Sementara, Patih Suratrimantra jagonya Raden Kangsadewa tewas di tangan Raden Harya Bima, panenggak Pandhawa sebagai jago Prabu Basudewa dalam pertarungan ‘hidup-mati’; yakni ‘adu jago’ dengan taruhan Negeri Mandura bagi pemenangnya.

2 comments on “Resensi dan Sinopsis Novel Matahari Kembar Di Mandura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

de_dzuhri 14

A topnotch WordPress.com site

Go Online !

Give your more smile :)

Puzpha kesuma Niingsih :)

Welcome to my blog ^_^

Newbie Tora

Takkan ada perubahan tanpa ada perbuatan

Anjar Priyadi

Hadapi hidup ini dengan penuh Semangat Baru

yayaz raraz adyu

"Dunia yang kita ciptakan adalah produk pemikiran kita. Kita tidak akan bisa mengubahnya tanpa mengubah pemikiran kita."(Albert Einstein)

mesyaadizzy

A great WordPress.com site

Blog'e Cah Bagus

Oyi tooo....??

satrio teddy bintono

maravillosa vida en la búsqueda de una bendición

yayaalankaabut

jangan biarkan waktu berlalu sia-sia

Bakti Esnaning Fitri

Happy Always !!!! :)

FM Forever

Mind to Wisdom

Titi Isworo

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

Destika Erna Puspita :)

Tersenyum & Selalu Senang :)

ENGGAR WIAR'10

Mata bisa melihat dengan jelas,namun hanya hati yang bisa melihat dengan jujur

affastt

My "life" is My "dream"

enggardinisukmawati

Senyuman itu seperti perban, walaupun lukanya tertutupi tetapi sakitnya masih terasa :)

Pustaka Wayang 02

Menuju ke Perpustakaan Terbuka Wayang Digital

Amallia Abbas

jujur, sunggug-sungguh, ikhlas :)

diars97

bersama meraih kesuksesan

%d blogger menyukai ini: